Pages

Subscribe Twitter Facebook

Jumat, 30 November 2012

sinopsis endless love episode 12

Han Tai menyuruh En Xi datang ke kamarnya, setelah En Xi datang ia melempar sebuah baju tepat di muka En Xi dan menyuruh En Xi memakainya. Ternyata mereka datang ke acara pameran Jun Xi. Di depan Jun Xi, Han Tai sengaja memeluk erat En Xi. Han Tai sengaja melakukan itu untuk membuat Jun Xi marah. Tiba-tiba A Tai mencium pipi En Xi, En Xi pun menghindar. Han Tai marah pada En Xi apakah ia tidak boleh begitu padahal mereka akan segera menikah. Akhirnya Han Tai benar-benar mencium pipi En Xi lagi di depan Jun Xi. Saat Han Tai sedang mengambil minum, Jun Xi menyuru En Xi untuk bicara di luar. Han Tai melihat En Xi berjalan keluar ruangan.
Saat berdua Jun Xi bertanya apakah En Xi benar-benar berkencan dengan Han Tai. En Xi pun membenarkannya. Jun Xi sama sekali tak percaya mendengarnya ia pun ingin meyakinkan dengan memegang pundak En Xi. Disaat yang tidak tepat itu Yu Mei dan ibunya datang melihat mereka berdua. Ibu Yu Mei bertanya pada Jun Xi apa yang sedang mereka lakukan. Lalu ibu Yu Mei juga marah-marah pada En Xi, apakah En Xi belum puas melihat anaknya hampir mati bunuh diri. En Xi pun meminta maaf. Tapi Ibu Yu Mei terus saja berkata kasar dan mengatakan En Xi orang yang tidak tahu diri. Jun Xi emosi dan membentak ibu Yu Mei. Yu Mei kaget melihat sikap Jun Xi, tapi Jun Xi malah meninggalkan mereka berdua. Dan disaat yang tepat Han Tai datang menarik En Xi pergi.
En Xi meminta maaf pada Han Tai. Tapi Han Tai berkata padanya jangan meminta maaf karena memang En Xi dan Jun Xi pantas mendapatkannya. En Xi malah berkata terima kasih karena Han Tai, kini Jun Xi benar-benar mengira bahwa mereka berkencan dan setelah ini En Xi juga tidak akan merepotkan Han Tai lagi. Han Tai kaget mendengarnya ternyata En Xi memang tidak pernah menganggapnya apa-apa.
Di perjalanan pulang En Xi tiba-tiba jatuh dan hidungnya mengeluarkan darah lagi. Ia merasa dirinya memang sedang tidak baik maka ia memutuskan kembali kerumah sakit saat ia pingsan dulu. Setelah diperiksa En Xi sangak syok karena dokter mengatakan ia terkena penyakit leukemia atau kanker darah. En Xi tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menerima semua penderitaan di hidupnya yang datang seakan tak mau lepas.
Setelah kejadian di pameran ibu Yu Mei sangat marah maka Yu Mei pamit ingin ke Seoul pada Jun Xi. Jun Xi hanya mengatakan ia akan mengantar Yu Mei sampai bandara. Yu Mei marah apakah tidak ada hal lain yang ingin dikatakan Jun Xi padanya, apakah Jun Xi akan bertemu dengan En Xi lagi, mengapa bayangan En Xi masih bisa Yu Mei lihat di mata Jun Xi. Jun Xi pun marah, ia berkata apakah semua ini belum cukup untuk Yu Mei, Jun Xi sudah berada di sisi Yu Mei. Lalu Jun Xi semakin marah ia mengatakan mereka akan ke Amerika dan tidak akan kembali lagi agar hati Yu Mei puas. Yu Mei menjawab bahwa ia semakin yakin Jun Xi memang belum bisa menerimanya, Yu Mei bertanya sekali lagi apakah Jun Xi mencintainya. Jun Xi tidak bisa mengatakan itu, ia hanya bisa bilang bahwa ia telah memilih Yu Mei. Dan Yu Mei tetap berkeras hati apapun yang terjadi dan apapun yang Jun Xi katanya ia takkan melepas Jun Xi untuk En Xi.
En Xi ingin menemui Jun Xi di galerinya. Tapi saat di perahu ia merasa pandangannya kabur dan ia pun duduk lemas. Tapi ia tetap bertekad ingin pergi menemui Jun Xi. Sesampainya di galeri, ia melihat Jun Xi keluar ingin mengantar Yu Mei pulang. Karena merasa waktunya tidak tepat untuk bertemu Jun Xi, ia pun memutuskan untuk mampir kerumah Nyonya Yin. Nyonya Yin melihat wajah En Xi sangat pucat, namun En Xi hanya bilang bahwa ia sedikit flu. Nyonya Yin menyuruh En Xi untuk istirahat sejenak dikamarnya. Saat En Xi tidur, Nyonya Yin melihat En Xi penuh dengan rasa sayang dan kasihan dengan apa yang En Xi hadapi saat-saat ini.
En Xi pulang kerumah, ia memasak makanan yang enak untuk ibunya, ibu bingung mengapa En Xi begitu boros. En Xi menjawab bahwa ia ingin sekali saja membahagiakan ibunya. Saat makan En Xi bertanya pada ibunya mengenai ayahnya, berapa lamakah waktu yang tersisa setelah ayahnya di diagnosa mengidap penyakit leukimia itu hingga akhirnya meninggal. Ibunya bingung mengapa En Xi tiba-tiba menanyakan hal itu, ayahnya lama sakit lalu meninggal dan menghabiskan banyak uang. Ibunya juga berkata itu adalah hukum karma bagi ayahnya. En Xi tersentak mendengar kata “hukum karma”, karena itu yang mungkin sedang En Xi alami saat ini. En Xi juga menyampaikan permintaan maaf pada ibunya karena ia tidak tahu kapan ajal datang menjemputnya.
En Xi kembali ke rumah sakit, ia bertanya mengenai operasi. Dokter pun menegaskan bahwa cara yang harus mereka tempuh adalah dengan jalan operasi dan hal itu memerlukan biaya yang tidak sedikit dan harus minum obat dengan rutin. En Xi kembali ke hotel, ia termenung sambil memegang obat yang diberi dokter. Lamunan En Xi buyar ketika supervisor datang menghampirinya dan mengabarkan bahwa En Xi sudah dipecat dari hotel ini.
En Xi tahu siapa yang ada di balik pemecatannya ini, ia pun menemui Han Tai. En Xi bertanya pada Han Tai mengapa ia tiba-tiba dipecat padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. Han Tai menyudutkan En Xi ke tembok dan berkata bahwa En Xi memang tidak melakukan kesalahan apapun tapi dengan uang ia bisa membeli semuanya. Kini baginya persetan dengan cinta, karena baginya cinta bisa saja ia beli dengan mudahnya.
Han Tai pun bertanya pada En Xi, berapa banyak uang yang En Xi inginkan ?? tanpa terasa En Xi meneteskan airmata, lama terdiam En Xi pun menjawab berapa banyak uang yang akan Han Tai berikan padanya ?? karena Han Tai benar, kini ia membutuhkan banyak uang. En Xi terus mengulang kata-katanya, sampai ia pun terduduk lemas. Han Tai bingung mendengar ucapan En Xi, ia mencoba mendekati En Xi namun En Xi segera bangun dan berlari meninggalkan Han Tai, tanpa En Xi sadari botol obatnya terjatuh di lantai.
En Xi memutuskan untuk segera pulang, ibunya heran melihat anaknya sudah ulang lebih awal. Ibu bertanya apakah En Xi izin sakit hari ini sehingga pulang cepat, En Xi pun memberitahukan bahwa ia telah berhenti dari pekerjaannya. Tiba-tiba kakak En Xi keluar dari dalam rumah, ia mendengar kata-kata En Xi dan berkata untuk apa En Xi pulang jika ia tidak bekerja lagi. Kakak En Xi terus memukulinya, ibu En Xi menghadang. Ibunya meminta En Xi untuk segera pergi saja dari rumah. En Xi pun berlari menghindari amukan kakaknya.


-Bersambung-














0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger