Pages

Subscribe Twitter Facebook

Rabu, 05 Desember 2012

sinopsis endless love episode 16

Ibu kandung En Xi dan Ny. Yin sedang bertukar pikiran, Ny. Yin berkata bahwa ia tidak bisa menolong En Xi karena golongan darahnya tidak cocok dengan En Xi. Jika En Xi putri kandungnya maka ia pasti akan mendonorkan darahnya dan operasi bersama, kini mereka hanya bisa menunggu keajaiban dan satu-satunya harapan terakhir adalah ibu En Xi sendiri. Karena mencari pendonor sumsum tulang belakang sangatlah sulit, mereka harus segera berusaha atau En Xi akan semakin sakit. Ibu En Xi menangis histeris, ia malah berkata andai saja En Xi bukan putri kandungnya maka ia tidak akan mengidap penyakit mematikan seperti ayahnya dulu di usia semuda ini.
Yu Mei merasa tidak tenang, ia pun memutuskan menjenguk En Xi di rumah sakit. En Xi kaget melihat Yu Mei ada di sampingnya dan menangis. Ia berkata pada Yu Mei bahwa Yu Mei tidak boleh menangis lagi, ia tidak apa-apa dan akan hidup dengan baik. En Xi meminta Yu Mei untuk tidak memberitahukan Jun Xi mengenai penyakitnya ini, karena setelah sembuh ia sendiri yang akan memberitahu Jun Xi. Air mata Yu Mei terus menetes tanpa henti, ia meminta maaf pada En Xi berkali-kali dan berdoa agar En Xi segera sembuh lalu menjalani hidup dengan baik. En Xi menjawab bahwa Yu Mei harus berjanji padanya selalu membuat Jun Xi bahagia.
Han Tai membawa perias untuk mendandani En Xi menjadi semakin cantik. Han Tai mempersiapkan En Xi untuk tidak takut dan siap menjalani operasi. Perias memoles wajah En Xi dan terus memperhatikan wajah En Xi lekat-lekat. En Xi bertanya pada perias itu apakah ia tidak terlihat cantik ?? perias pun menjawab bahwa En Xi benar-benar cantik tapi ia sungguh kasihan melihat En Xi harus segera di operasi.
Setelah selesai di rias, En Xi ke toilet ia bercermin dan menghapus dandanannya yang terlalu mencolok, tanpa sengaja ia mendengar sepasang suami istri yang menangis histeris menerima kenyataan anaknya meninggal setelah di operasi. En Xi berlari keluar dan ia menangis ketakutan. Han Tai menunggu lama di ruangan rawat En Xi namun En Xi tak kunjung masuk akhirnya Han Tai mencari-cari En Xi. Saat di taman Han Tai melihat En Xi,ia segera menghampirinya.
En Xi langsung menangis di bahu Han Tai dan berkata bahwa ia tidak mau di operasi dan ia sangat takut, ia tidak mau meninggal. Han Tai segera memeluk erat En Xi dan bertanya apakah En Xi mau ia memanggilkan Jun Xi menemaninya. En Xi menggeleng dan meminta maaf pada Han Tai karena selalu merepotkannya. Han Tai terus menyemangati En Xi bahwa ia akan baik-baik saja dan operasi akan berjalan lancar.
Han Tai sedang menghibur En Xi, ia berkata En Xi harus mendengarkan apa yang ia ingin katakan saat ini. En Xi harus hidup lebih lama karena ada 5 hal yang menjadi alasannya. Pertama ayah dan ibu, kedua laut, ketiga tumis kue keranjang, ke empat mengaku dosa. En Xi memotong kata-kata Han Tai, En Xi berkata bagaimana Han Tai tau semua yang ia sukai. Han Tai tersenyum, ia pun melanjutkan kata-katanya alasan yang terakhir En Xi harus sembuh adalah Yun Jun Xi. En Xi tertegun mendengar kata-kata Han Tai, ia pun berkata pada Han Tai kini ada satu hal alasan tambahan yang membuatnya ingin hidup lebih lama yaitu Han Tai. Han Tai langsung memeluk En Xi dan mengucapkan terima kasih, air mata Han Tai pun menetes dengan derasnya.
Penyakit En Xi tiba-tiba semakin parah, En Xi merasakan sakit yang luar biasa. Wajahnya pucat dan berkeringat, ia mengguling-gulingkan badannya menahan rasa sakit. Dan di saat seperti itu tidak ada seorangpun di samping En Xi. Dengan sekuat tenaga En Xi ingin bangkit dan meraih tombol darurat namun sebelum ia menggapainya, badannya lemah ia pun pingsan. Dokter dan perawat berlarian masuk ke kamar En Xi, Han Tai yang sedang membawakan makanan untuk En Xi terkejut dan menjatuhkan semuanya. Saat ia lihat En Xi sudah tergeletak tak sadarkan diri. Han Tai terus berteriak memanggil En Xi dan meminta En Xi untuk tidak meninggalkannya.
Jun Xi baru tiba di rumahnya, ia melihat Yu Mei dengan wajah yang sangat sedih. Yu Mei terus mengeluarkan kata-kata apa yang harus ia lakukan saat ini ?? Jun Xi semakin bingung dengan apa yang Yu Mei maksud. Yu Mei pun akhirnya memberitahukan bahwa En Xi sebentar lagi akan meninggal, baru saja ia jatuh pingsan dan kini koma. Jun Xi tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun mendengar berita ini. Yu Mei terus meminta maaf karena ia tidak memberitahu penyakit En Xi pada Jun Xi.
Jun Xi segera menuju rumah sakit di ikuti oleh Yu Mei di belakangnya, Jun Xi melihat ayah, ibu, Han Tai dan juga ibu En Xi di depan ruang gawat darurat. Jun Xi langsung memaksa masuk, Han Tai segera menghalangi Jun Xi agar tidak mengganggu jalannya pemeriksaan terhadap En Xi. Jun Xi berteriak memanggil nama En Xi berkali-kali, ia juga berkata bahwa En Xi tidak boleh meninggalkannya karena ia belum sempat mengatakan ia mencintai En Xi seperti keinginannya. Semua orang melihat haru dengan apa yang Jun Xi rasakan saat ini. Dokter mengatakan En Xi kini sedang koma, mereka baru bisa memastikan kondisi En Xi setelah melewati malam ini.
Nyonya Yin mengusap-ngusap tangan En Xi dengan penuh kasih sayang, tiba-tiba ia berkata bahwa tangan En Xi sedikit bergerak. Ibu En Xi kaget mendengarnya, namun setelah ia lihat En Xi sama sekali tidak bergerak. Nyonya Yin langsung menangis dan berbisik pada En Xi bahwa ia sangat sedih melihat En Xi seperti ini, hatinya benar-benar terluka. Ibu En Xi lagi-lagi menangis histeris dan meminta nyonya Yin jangan seperti ini, mereka berdua menunggu disini dan harus sama-sama tabah.
Jun Xi, ayahnya dan Han Tai berbicara dengan dokter, dokter berkata bahwa En Xi masih mempunyai kemungkinan untuk sadar atau tamat. Han Tai emosi dan mendorong dokter apa yang dimaksudkan dokter dengan kata tamat. Dokter pun memberitahukan bahwa saat koma kemungkinan penyakit En Xi bertambah ganas, dan disaat koma seperti ini mereka tidak bisa menjalani operasi sumsum tulang belakang sehingga bisa saja En Xi tidak tertolong lagi. Jun Xi hanya diam, ia malah meninggalkan ayah, Han Tai dan dokter. Han Tai langsung mengejar Jun Xi.
Han Tai menarik Jun Xi berhenti, ia bertanya Jun Xi mau kemana disaat En Xi seperti ini malah mau pergi. Jun Xi menoleh dan menatap Han Tai dengan tatapan tajam, namun mulutnya bungkam seribu bahasa. Han Tai melepaskan Jun Xi dan berteriak, apakah kini Jun Xi menyerah mendengar En Xi akan meninggal ?? lagi-lagi Jun Xi tak bergeming, ia terus berjalan meninggalkan Han Tai sendiri.


Ternyata Jun Xi pergi menyendiri di galerinya, ia tidak bicara dan menerima telpon dari siapapun. Saat sendiri ia teringat dengan lukisan wajah En Xi saat dulu, ia melihat dengan seksama dan entah apa yang ia fikirkan ia langsung membakar semua lukisan yang telah ia buat selama ini. Disaat yang tepat Yu Mei datang, dan langsung berlari menghalangi apa yang Jun Xi lakukan. Yu Mei menangis dan berkata bahwa semua ini salahnya, Jun Xi jangan seperti ini. Lukisan ini adalah hasil jerih payahnya dan kehidupannya, salahkan saja dirinya atas semua ini. Jun Xi pun menghentikan apa yang ia lakukan dan terdiam.
Saat Yu Mei sedang membersihkan tangan, Jun Xi menemuinya. Jun Xi langsung berkata bahwa mereka besok akan pergi ke Amerika, ia tidak akan mengubah rencana awal mereka. Yu Mei kaget mendengarnya dan berkata apakah Jun Xi tidak tahu mereka tidak bisa pergi di saat En Xi sedang koma seperti ini. Jun Xi tetap berkata besok mereka akan ke Amerika, tidak akan ada perubahan apapun pada En Xi. Yu Mei menghentikan langkah Jun Xi dan berkata bahwa ia malu pada dirinya sendiri karena disaat En Xi seperti ini pun ia tidak mempu mengucapkan kata berpisah pada Jun Xi, namun untuk saat ini ia meminta Jun Xi untuk mencampakkannya dulu karena ia tahu Jun Xi tidak akan bisa hidup tanpa En Xi dan ia pun begitu takkan bisa hidup tanpa Jun Xi. Jadi Yu Mei meminta Jun Xi untuk mencampakkannya dulu. Jun Xi menjawab dengan tegas jika Yu Mei tidak mau ke Amerika maka ia akan pergi sendiri.
Han Tai menemani En Xi, sebelum masuk ke kamar En Xi Han Tai menarik nafas dalam-dalam. Han Tai masuk dengan gurat kesedihan di wajahnya. Ia mengajak En Xi bicara. Han Tai berkata setiap kali ia masuk untuk menjenguk En Xi yang ada di fikirannya adalah ia sangat takut En Xi sudah tidak ada disini. Setelah siuman ia takut En Xi akan melarikan diri pada Jun Xi, dengan begitu hatinya akan hancur lagi namun kali ini ia takkan sedih karena ia takkan menghalagi mereka lagi dan berharap mereka melarikan diri lagi.
Saat Han Tai keluar ruangan En Xi, ternyata Yu Mei sudah menunggunya. Yu Mei meminta tolong pada Han Tai untuk menasehati Jun Xi. Han Tai menebak bahwa Jun Xi akan pergi ke Amerika, Yu Mei membenarkan bahwa Jun Xi akan pergi besok dan lebih parah lagi Jun Xi membakar semua lukisannya. Yu Mei meminta Han Tai yang berbicara pada Jun Xi, karena kini Yu Mei tidak dapat melakukan apapun. Han Tai marah pada Yu Mei, ia berkata bagaimana mungkin ia menyuruh Jun Xi menjenguk En Xi, mengapa Yu Mei begitu kejam. Karena baginya ia tidak bisa terima Jun Xi menyerah begitu saja dengan kondisi En Xi, sedangkan En Xi masih terus berjuang sendiri. Han Tai memastikan pada Yu Mei ia tidak akan bicara pada Jun Xi karena kini, ialah pria terakhir untuk En Xi.
Xin Ai menjenguk En Xi, lalu ia berbicara berdua pada ibunya. Ibu meminta Xin Ai untuk melihat apa yang dilakukan Jun Xi, ibu juga menyuruh Xin Ai meminta Jun Xi untuk menemui En Xi karena kini hanya Jun Xi lah yang En Xi tunggu-tunggu. Xin Ai menangis dan berkata, ia mengerti dengan apa yang kakaknya rasakan, ia saja tidak mampu melihat keadaan En Xi. Andai saja mereka dulu tidak pernah bertemu dan bertukar tempat mungkit En Xi tidak akan sakit seperti ini, Xin Ai sangat merasa bersalah pada En Xi karena telah menukar jati dirinya harusnya dirinya lah yang sakit. Ibu menangis mendengar kata-kata Xin Ai dan berkata jika Xin AI berkata seperti ini, apa yang harus ia perbuat. Xin Ai pun mnghibur ibunya bahwa En Xi akan sadar karena En Xi adalah wanita yang gigih.
Di halaman galerinya Jun Xi melihat sebuah pohon, ia memandang pohon itu dalam-dalam dan terdengar kata-kata En Xi dulu yang berkata padanya bahwa di kehidupan mendatang En Xi ingin sebuah pohon, karena baginya pohon takkan berpindah tempat dengan begitu ia tidak akan berpisah dengan Jun Xi. Jun Xi pun langsung terduduk lemas mengingat kenangan itu. Sedangkan di rumah sakit keadan semakin mencekam, En Xi dilarikan ke ruangan gawat darurat lagi.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dokter keluar dan berbicara pada semua keluarga bahwa En Xi mengalami penurunan tekanan darah dan setelah pemeriksaan selesai tim rumah sakit akan membawa En Xi ke kamar rawatnya lagi, diharapkan semua keluarga menemui En Xi karena mala mini adalah terakhir keluarga melihat En Xi. Sontak ibu En Xi menangis histeris mendengar kabar buruk untuk anaknya dan nyonya Yin pun tak kuasa mendegar ini ia langsung tersungkur jatuh terkulai. Han Tai dan ayah hanya bisa menahan sesak di dada mendengar ini terakhir kalinya mereka melihat En Xi.
Nyonya Yin pun kini dirawat di rumah sakit yang sama dengan En Xi karena ia tak kunjung sadarkan diri dari pingsan. Lain hal dengan yang Tuan Yin rasakan, ia termenung sendiri dan menangis mengingat semua yang sudah ia lakukan pada En Xi dan juga Jun Xi. Dimana ia dulu menolak pengakuan Jun Xi dan mengusir En Xi, saat ia menyuruh Yu Mei untuk merahasiakan penyakit En Xi dari Jun Xi agar mereka tidak bersatu hal itulah yang membuatnya sangat merasa bersalah dan tak pantas menemui En Xi. Dalam hati Tuan Yin meminta maaf pada En Xi karena ia berfikir ini yang terbaik bagi semua orang, namun ia sudah salah. Tuan Yin berharap En Xi bisa memaafkan ayahnya ini.
Han Tai terus menemani En Xi, ia menggenggam erat tangan En Xi dan berkata bahwa ia berjanji pada dirinya sendiri akan membawa Jun Xi untuk menemui En Xi saat ini juga. Han Tai pun langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mencari Jun Xi.


-Bersambung-





2 komentar:

nine mengatakan...

sinopny blm slsi..
dtggu lnjutin yaaa. smangat!

Anonim mengatakan...

ayo dong,,penasaran,,hehe

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger