Pages

Subscribe Twitter Facebook

Minggu, 02 Desember 2012

sinopsis endless love episode 15

Yu Mei, Xin Ai dan kedua orang tua Jun Xi sudah menunggunya di rumah untuk makan malam, betapa kagetnya semua orang melihat Jun Xi masih rumah dalam keadaan mabuk berat. Jun Xi setengah sadar, Yu Mei mendekati Jun Xi mau menolongnya berjalan namun dengan cepat Jun Xi menarik tangannya menjauh dari Yu Mei. Jun Xi menumpahkan seluruh makanan dan memcahkan gelas, dengan sempoyongan Jun Xi mengambil gelas di dalam lemari. Jun Xi terkejut melihat gelas milik En Xi ada berdampingan dengan gelas ibu, ayah dan juga miliknya.
Sesampainya dirumah Yu Mei mendapat telpon lagi dari dokter Kim yang menanyakan apakah ia sudah mendegar pesan yang ia sampaikan. Yu Mei tercengang mendengarnya, ia segera menghampiri Jun Xi yang sedang merapikan pakaiannya. Yu Mei bertanya apakah Jun Xi sudah mengetahui bahwa tangannya sudha sembuh. Jun Xi hanya diam tak memjawab. Lagi-lagi Yu Mei menangis ia meminta maaf karena tadinya ia ingin memberitahukan Jun Xi namun ia sangat takut kalau Jun Xi tahu tangannya sudah sembuh Jun Xi akan meninggalkannya. Jun Xi berkata bahwa Yu Mei tidak perlu meminta maaf karena ialah yang seharusnya meminta maaf pada Yu Mei.
Yu Mei bertanya apakah Jun Xi tidak akan meninggalkannya dan mencari En Xi ?? Jun Xi menjawab bahwa ia tidak akan mencari kemana En Xi pergi. Melihat gelasnya ada disani itu berarti En Xi sudah menyiapkan segalanya dan melupakan semua kenangan bersamanya. Jun Xi meminta izin pada Yu Mei karena ia ingin berlibur seorang diri. Ia ingin segera melupakan masa lalu bersama En Xi dan akan kembali pada Yu Mei lalu pergi bersama-sama ke Amerika. Jun Xi meminta pada Yu Mei selama ia pergi tolong jaga gelas ini, namun setelah ia kembali nanti gelas ini sudah menjadi biasa dan tidak ada arti apa-apa.
Han Tai dan En Xi sedang berjalan-jalan sore, En Xi meminta pada Han Tai dapatkah ia memberikannya sebuah jimat. En Xi meminta kalung yang pernah Han Tai berikan padanya yang menjadi jimat pelindung saat ia sakit. Han Tai tersenyum mendengarnya, ia berkata ia pasti akan memberikan kalung itu pada En Xi. Namun Han Tai mengajukan satu permintaan bila En Xi mengizinkan bisakah ia memberikan En Xi jimat yang lain selain kalung itu. En Xi pun tersenyum. Sedangkan Jun Xi sedang berlibur seorang diri, ia pergi ke perkebunan dimana dulu ia dan En Xi kabur dari rumah. Ia menjelajahi setiap sisi tempat yang pernah menjadi kenangannya bersama En Xi.
Sebelum masuk ke dalam ruang pemeriksaan, Han Tai menghampiri En Xi dan memberikannya jimat sebuah cincin untuk En Xi pakai saat ia dalam kesakitan. Saat pemeriksaan tiba En Xi pun menahan rasa sakit, tapi kini di jarinya tersemat cincin pemberian Han Tai bukan cincin dari Jun Xi. Walaupun begitu, pikiran En Xi hanyalah tertuju pada Jun Xi seorang. Sama halnya dengan En Xi, Jun Xi pun sedang meratap dan mengingat kenangan saat ia memberikan cincin pada En Xi saat dulu.
Han Tai berpamitan pada En Xi karena harus meninggalkannya selama 3 hari ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan. En Xi berkata jika memang Han Tai sibuk ia tidak apa-apa disini sendiri. En Xi pun mengingatkan Han Tai agar hati-hati di jalan. Han Tai menoleh dan tersenyum pada En Xi, ia berkata mendengar En Xi berkata seperti itu membuatnya merasa ada kesempatan, Han Tai pun bilang bahwa ia tidak akan meninggalkan En Xi selama 3 hari, ia pastikan akan kembali besok untuk menemani En Xi. Han Tai bertanya sekali lagi apakah Jun Xi tidak boleh mengetahui penyakit En Xi ?? dan apakah En Xi tidak mau bertemu dengannya sebelum ia kembali ke Amerika ?? En Xi lagi-lagi tersenyum menggelengkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada Han Tai.
Ternyata En Xi tetap tidak bisa membuka hatinya untuk Han Tai, setelah Han Tai pergi En Xi memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sebelum pergi, En Xi melepas cincin pemberian Han Tai dan memakai kembali cincin pemberian Jun Xi. En Xi pergi naik bis ke perkebunan tempat ia dan Jun Xi kabur saat dulu. Sedangkan Jun Xi sedang bersiap-siap pulang dari perkebunan, sebelum pulang Jun Xi melihat pohon kesayangan En Xi yang bertuliskan namanya dan nama En Xi.
Ternyata urusan penting Han Tai adalah untuk menemui ibu En Xi. Ibu En Xi bertanya ada apa Han Tai menemuinya ?? Han Tai diam, hanya raut wajahnya yang terlihat gelisah. Ibu En Xi curiga dan bertanya apakah terjadi sesuatu pada En Xi ?? apakah pekerjaan En Xi di Seoul terlalu berat ?? Han Tai akhirnya mengungkap yang sebenarnya pada ibu En Xi bahwa En Xi mengidap penyakit kanker darah dan harus segera mendapat pendonor tulang sumsum belakang. Ibu En Xi lemas seketika dan terus berteriak menyebut-nyebut bahwa En Xi sakit sama seperti ayahnya.
Ternyata di luar Xin Ai mendengar dengan jelas semua pembicaraan Han Tai dengan ibu En Xi. Saat Han Tai keluar, Xin Ai langsung menanyakan apakah benar En Xi mengidap penyakit kanker darah ?? jika benar apa yang harus ia, orang tuanya dan Jun Xi lakukan. Han Tai mendekati Xin Ai dan berkata anggap saja Xin Ai tidak mendengar apa-apa dan meminta dengan sangat pada Xin Ai agar Xin Ai tidak memberitahukan hal ini pada siapapun terutama pada Jun Xi, jika sampai ada yang mengetahui ini maka Han Tai tidak akan memaafkan Xin Ai.
En Xi sedang melihat-lihat pemandangan dari bus yang ia tumpangi, matanya terhenti pada sesosok yang ia kenal yang sedang berada di dalam mobil dan ia yakin itu adalah Jun Xi. En Xi pun segera turun dari bus dan mengejar di belakang mobil Jun Xi. Namun karena Jun Xi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Jun Xi sama sekali tidak melihat keberadaan En Xi di belakangnya. Sakit kepala En Xi tiba-tiba menyerang, En Xi pun lemas meratapi kepergian Jun Xi. Namun tanpa di duga mobil Jun Xi mundur dan keluarlah Jun Xi menghampirinya. Jun Xi langsung memegang erat En Xi, En Xi pun berkata mengapa ia tidak bisa ia tidak bisa lari dari cengkaraman Jun Xi. Jun Xi hanya tersenyum mendengarnya, mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumput ilalang.
Sedangkan di rumah keluarga Xin Ai terjadi suatu masalah, ibu En Xi memutuskan untuk menemui keluarga Ny. Yin. Ny. Yin bingung melihat ibu En Xi yang begitu terlihat kalut dan sedih, ia pun bertanya ada apa sebenarnya yang terjadi. Xin Ai terus menghalangi ibu En Xi untuk bicara pada ibunya, karena ia tahu ibu En Xi pasti akan menceritakan masalah penyakit En Xi pada keluarganya termasuk Yu Mei. Ibu En Xi pun langsung bicara dengan histeris bahwa anaknya terkena penyakit kanker darah, ia memohon pada ibu Xin Ai untuk menolongnya untuk membantu operasi En Xi. Ibu En Xi pun menyerahkan semua uang yang ia punya pada ibu Xin Ai, namun sebelum ibu Xin Ai memberikan jawaban ia pun pingsan mendengar anak kesayangannya sakit parah.
Yu Mei segera menemui Han Tai, Yu Mei bertanya apa yang harus ia lakukan saat ini ?? dan bagaimana jika Jun Xi sampai tahu hal ini ?? Han Tai dengan nada ketus berkata Yu Mei pikirkan jalan keluarnya sendiri, karena ia sendiri harus memikirkan apa yang ia lakukan. Han Tai juga memperigatkan Yu Mei agar jangan sampai Jun Xi tahu, karena En Xi tidak mengizinkannya.
Jun Xi dan En Xi duduk berdua di tengah padang ilalang dengan suasana sore yang indah. En Xi bertanya Jun Xi jadikah pergi ke Amerika ?? Jun Xi menjawab bahwa beberapa hari lagi ia akan pergi, tapi sebelum ia pergi ia ingin ke perkebunan ini. En Xi pun berkata bahwa ini adalah terakhir kalinya ia akan kesini, jadi walaupun hanya satu hari ia sangat senang bisa bersama Jun Xi disini. Jun Xi sedih mendengarnya, ia berkata bahwa ia tahu En Xi rindu padanya saat ini. En Xi membenarkannya, ia berkata ia memang rindu, sangat rindu bahkan sampai mati pun ini tidak akan cukup membayar rasa rindunya.
Jun Xi berkata bahwa ia ingin selalu bersama En Xi sampai ia mati. En Xi menjawab bahwa itu tidak boleh terjadi, karena Jun Xi sudah berjanji padanya Jun Xi tidak akan mati sebelum En Xi terlebih dulu dan nantinya kita akan selalu bersama karena ia sangat mencintai Jun Xi. En Xi minta pada Jun Xi untuk menjaga hati dan harapan untuknya karena terhadap Jun Xi hatinya telah ia berikan seluruhnya. Jun Xi menangis ia berkata bahwa hatinya untuk En Xi dan sudha ia simpan untuknya. Jun Xi pun mencium bibir En Xi dengan penuh perasaan lalu mereka saling memeluk erat.
Jun Xi dan En Xi meneruskan jalan-jalan mereka, tiba-tiba En Xi lemas dan tidak kuat berjalan lagi. Jun Xi bertanya apakah ada yang sakit, En Xi menjawab bahwa ia hanya terjatuh dan meminta Jun Xi menggendongnya. Jun Xi pun menuruti permintaan En Xi, saat di gendong En Xi terus menerus menyatakan bahwa ia sangat mencintai Jun Xi.

Jun Xi bertanya mengapa En Xi sangat aneh, En Xi pun mengelak ia berkata bahwa ia tidak pernah mendengar secara langsung Jun Xi menyatakan cintanya pada En Xi secara langsung. Jun Xi pun ingin mengucapkan, namun En Xi langsung berkata bahwa ia tidak ingin mendengar saat ini. Jun Xi pun bertanya kapan ia harus menyatakannya pada En Xi. En Xi pun bilang ia ingin mendengarnya nanti saat mereka bertemu lagi. Wajah En Xi penuh keringat dan badannya pun sudah sangat terlihat lemah.Saat bangun pagi-pagi Jun Xi melihat En Xi tidak ada di sampingnya, ternyata En Xi memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
Ayah Xin Ai sedang berbicara pada Xin Ai dan juga Yu Mei. Ayah berkata bahwa ia akan menjenguk En Xi lebih dulu. Yu Mei mau ikut menjenguk namun ayah Xin Ai melarangnya, ia memperigatkan Yu Mei dan Xin Ai untuk tidak memberitahukan masalah ini pada Jun Xi karena ia tahu jika Jun Xi tahu maka Jun Xi tidak akan mau berbuat apa-apa dan ia akan kehilangan Jun Xi.
Tiba-tiba istrinya datang dan marah mendengar suaminya bisa berkata seperti itu disaat En Xi sedang seperti ini. Ayah memberikan penjelasan pada istrinya apakah istrinya tidak tahu jika Jun Xi tahu maka ia tidak akan pergi ke Amerika bersama mereka. Ibu dengan tegas berkata bahwa ia memang tidak tahu karena yang ia tahu hanyalah anaknya En Xi yang sedang sakit parah dan sebentar lagi meninggal. Ibu ingin pergi menjenguk En Xi dan melarang suaminya menjenguk karena ia tidak mempunyai hak.
En Xi meninggalkan Jun Xi pagi-pagi sekali sebelum Jun Xi terbangun, ternyata En Xi kembali ke rumah sakit karena Han Tai akan menjenguknya hari ini. Saat mobil Han Tai tiba, En Xi segera menghampirinya. Han Tai memberitahu En Xi bahwa ia mengajak beberapa orang bersamanya. En Xi sungguh kaget namun ia bahagia karena kini ada kakak, ibu kandungnya dan ibu Xin Ai ada disini menemaninya. Ibu En Xi tak kuasa menahan tangis, En Xi pun langsung berlari memeluk erat kedua ibunya. Han Tai dan kakak En Xi benar-benar terharu melihat kenyataan pahit yang sedang En Xi hadapi.
Ny. Yin sedang berbicara berdua dengan En Xi, En Xi berkata kini ia sangat bahagia karena kini kedua ibunya ada untuk menemaninya. En Xi menanyakan apakah Jun Xi tahu bahwa ia sakit ?? Ny. Yin menggelengkan kepalanya. En Xi berkata bila nanti terjadi apa-apa padanya, sebelum ucapan En Xi selesai Ny. Yin langsung berkata bahwa tidak ada yang akan terjadi pada En Xi semuanya akan berjalan baik. Karena jika En Xi tidak ada ia pun tidak bisa hidup tanpa En Xi dan tidak akan membiarkan En Xi pergi sendiri, ia akan selalu menemani En Xi. En Xi marah ia tidak mau mendengar ibunya berkata seperti itu lagi. Sedangkan ibu kandung En Xi duduk lemas mendengarkan semua pembicaraan En Xi bersama Ny. Yin. Ia meratapi betapa malang takdir yang harus En Xi jalani.


-Bersambung-





7 komentar:

Dian Kurniasih mengatakan...

huhuhuhuhu
so sad story
thankz ud update lagi sinopsis'ya
trus d'update yach, terus semangat nulis sinopsis'ya, aku bakalan update terus blog K'

oktaviani diana mengatakan...

makasih ya semangatnya ..
aku berusaha untuk selesain segera ..

oktaviani diana mengatakan...

oia bagi para pengunjung ..
boleh juga di kunjungi link facebook toko online aq ya ..
http://www.facebook.com/pages/Oshopline/129309477226114

kristin tin mengatakan...

Update lg dunk sinopsis ny,, penasaran kelanjutan nya gmn :))

Novel Inaz Nabyla mengatakan...

baca sinopsis sambil ndengerin soundtrax nya... bikin air mata meleleh....

oktaviani diana mengatakan...

ia aku pasti publish kelanjutannya ...
oia jgn lupa kunjungi link toko online aq ya ...
fashion korea super murah ..
http://www.facebook.com/pages/Oshopline/129309477226114

Anonim mengatakan...

hmm.. kasih sayang ibu yang tiada tara

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger