Pages

Subscribe Twitter Facebook

Kamis, 06 Desember 2012

sinopsis endless love episode 17

Han Tai sampai di galeri Jun Xi, ia langsung mencari-cari Jun Xi tapi galerinya kosong. Saat diluar Han Tai melihat Jun Xi sedang tidur di bawah pohon, ia langsung menarik Jun Xi dan memintanya untuk pergi bersamanya ke rumah sakit. Namun Jun Xi menepis tangan Han Tai dan mengabaikan pergi. Han Tai benar-benar emosi ia memukul Jun Xi hingga tersungkur dan berkata ini adalah salah satu pengorbanannya untuk En Xi dengan membawa Jun Xi menemuinya.
Jun Xi pun akhirnya berkata bahwa ia sangat takut jika nanti En Xi melihatnya maka En Xi akan meninggalkannya untuk selamanya. Maka dari itu ia berfikir untuk tidak menemui En Xi agar En Xi terus hidup karena berharap bertemu dengan dirinya. Ia tidak sanggup bila harus kehilangan En Xi. Jun Xi berharap Han Tai dapat mengerti perasaannya saat ini, Han Tai terdiam mendengar kata-kata Jun Xi.
Keesokan harinya Jun Xi akhirnya mau menemui En Xi. Ia membelai rambut En Xi dan berusaha mengajaknya bicara. Jun Xi berkata bahwa ia tahu En Xi pasti mendengarkannya, En Xi harus bangun demi dirinya. Jun Xi mengakui dirinya memang egois karena En Xi selalu melakukan apa yang ia minta, En Xi selalu menunggunya dan En Xi selalu memaafkannya jadi kali ini En Xi harus bangun. Mereka akan makan bersama, bernafas bersama, mengobrol bersama. Jun Xi meminta pada En Xi untuk memberinya sedikit waktu untuk bilang bahwa ia En Xi.
Disaat semua tertidur pulas, keajaiban datang pada En Xi. En Xi siuman dari komanya dan memanggil-manggil nama Jun Xi. Jun Xi yang tertidur di samping En Xi terbangun dan kaget melihat En Xi akhirnya sadar, Jun Xi berkata sambil tersenyum apakah En Xi tidur dengan baik. Senyuman Jun Xi pun dib alas oleh En Xi. Hal yang sama di rasakan oleh Han Tai, ia terbangun tiba-tiba dari tidurnya dan langsung menuju kamar En Xi. Seperti biasanya sebelum masuk kamar ia menarik nafas panjang, tapi kini doanya sudah terkabul. En Xi sudah tidak ada di tempat tidurnya, akhirnya En Xi bisa kabur bersama Jun Xi seperti dulu. Han Tai pun tersenyum namun dalam hatinya menangis.
Nyonya Yin dan ibu En Xi masuk ke kamar rawat En Xi, disana ada Tuan Yin. Nyonya Yin bertanya pada suaminya mengapa En Xi bisa hilang ?? apakah ia sudah sadar ?? Tuan Yin pun membenarkan dan berkata bahwa En Xi pergi bersama dengan Jun Xi. Ibu En Xi dan Nyonya Yin menangis haru, bibirnya tak pernah lepas mengucap kata syukur. Tuan Yin menemui dokter, ia bertanya apakah En Xi mempunyai peluang untuk sembuh ?? dokter mengatakan bahwa En Xi sudah tidak mungkin untuk di operasi maka dari itu ia menyarankan sebaiknya En Xi tidak perlu di rawat di rumah sakit.
En Xi minta pada Jun Xi untuk membawanya pergi dari rumah sakit, Jun Xi pun menuruti semua permintaan En Xi. Jun Xi membawa En Xi ke galerinya dan setelah itu mereka langsung bermain-main di pantai, walaupun En Xi kini hanya bisa duduk di kursi roda namun keceriaan tetap terpancar di wajahnya. Jun Xi melukis sketsa wajah En Xi di pasir seperti kebiasaan mereka dulu, Jun Xi mengarahkan gaya En Xi dan hal itu membuat En Xi tertawa. Ternyata ada Han Tai dari kejauhan memandang mereka berdua, Han Tai ikut tersenyum melihat mereka berdua bahagia.
Setelah melukis, Jun Xi dan En Xi duduk berdua di atas hamparan pasir putih. En Xi bertanya pada Jun Xi apakah ada yang ingin Jun Xi katakan padanya ?? Jun Xi tertawa dan berlagak acuh ia berkata bahwa ia tidak ingin mengatakan apa-apa. En Xi seperti biasa pura-pura marah dan bilang bahwa ia kecewa karena dulu Jun Xi bilang ingin mengatakan sesuatu padanya. Tanpa basa-basi Jun Xi langsung menyatakan bahwa ia sangat mencintai En Xi, En Xi menoleh kaget dan air matanya pun menetes.
Saat malam datang udara semakin dingin, En Xi berlari keluar ia meraskan mual dan muntah-muntah. Jun Xi selalu ada di samping n Xi, namun En Xi malah menyuruhnya masuk saja. En Xi tidak mau Jun Xi melihatnya dalam keadaan seperti ini. Setelah merasa enakan, Jun Xi pun memeluk En Xi untuk menemaninya tidur. En Xi meminta Jun Xi untuk bercerita apapun itu sampai ia tertidur. Jun Xi memberitahukan bahwa ia akan ke Seoul esok hari setelah itu mereka akan bertemu lagi. Jun Xi pun bertanya besok En Xi mau melakukan apa ?? mereka mau makan malam apa ?? tapi En Xi tidak menjawab pertanyaan Jun Xi. Jun Xi meneteskan air matanya dan ia merasakan hembusan nafas En Xi dengan tangannya. Jun Xi menarik nafas lega dan mengucapkan selamat malam pada En Xi dan mereka akan berjumpa lagi besok.
Keesokan harinya setelah Jun Xi ke Seoul menghadiri pameran kakak kelasnya ia langsung datang menjemput En Xi untuk periksa ke dokter. Saat di perjalanan pulang, En Xi meminta pada Jun Xi untuk membantunya berfoto. Jun Xi dengan cepat menjawab bahwa orang lain saja yang membantunya. En Xi memberikan alasan mengapa ia mau berfoto, karena setelah sembuh nanti ia ingin tahu bagaimana saat dulu ia sakit. Akhirnya Jun Xi menuruti kemauan En Xi, setiap kali Jun Xi memoto En Xi terlihat raut sedih terpancar di wajahnya. Mereka berfoto di halaman galery Jun Xi dan juga di pantai tempat kenangan mereka. Saat di pantai Jun Xi menanyakan apakah En Xi baik-baik saja, En Xi menoleh pada Jun Xi dan menjawab bahwa ia baik-baik saja.
Pagi hari saat bangun tidur, En Xi muntah dan saat ia melihat tangannya betapa kagetnya En Xi karena batuknya berdarah. Dengan cepat En Xi menyembunyikan sprei tempat tidur yang terkena muntahan ke bahwa tempat tidur agar Jun Xi tidak melihatnya. En Xi menangis menerima kenyataan penyakitnya kini semakin parah, En Xi hanya bisa termenung memikirkan kejadian ini. Setelah sarapan Jun Xi mengepel lantai, saat mengepel kolong tempat tidur ada yang mengganjalnya, saat Jun Xi melihat betapa kagetnya ia melihat sprei itu berlumuran darah. Jun Xi pun tahu bahwa En Xi sengaja menyembunyikan darinya.
Han Tai datang ke galeri untuk menjenguk En Xi. En Xi, Jun Xi dan Han Tai mengobrol bertiga. En Xi bercerita bahwa saat di rumah sakit kemarin ada seorang anak kecil yang tertawa dan mengikutinya saat ia batuk-batuk, En Xi bilang bahwa itu sangatlah lucu. Han Tai hanya tersenyum mendengarnya. En Xi minta pada Han Tai agar mereka foto bersama, karena dari kemarin ia sudah banyak berfoto. Jun Xi memandang sinis pada En Xi, En Xi bertanya apakah Jun Xi mau menolongnya mengambilkan kamera, namun Jun Xi terus memandang En Xi tanpa menjawab.
En Xi pun berdiri untuk mengambil sendiri namun langkahnya terhenti dan duduk kembali saat Jun Xi berdiri dan membentaknya. Jun Xi berkata dengan nada marah pada En Xi, apakah bagi En Xi penyakit batuknya adalah sebuah lelucon ?? apakah kekhawatiran Jun Xi atas penyakitnya itu sebuah hal yang lucu ?? Jun Xi mau menceritakan apa yang ia temukan tadi pagi namun mulutnya seperti bisu tak dapat mengatakan apapun lagi, ia langsung menginggalkan En Xi yang menangis dan Han Tai hanya bisa diam mencerna semua ini.
Saat di perjalanan pulang dari galeri Jun Xi, Han Tai memberhentikan mobilnya. Disaat seperti itu kenangan saat pertama kali bertemu En Xi melintas di benaknya. Tapi sesaat kemudian Han Tai langsung menancap gas mobilnya dan berhenti di sebuah gereja. Ia berlutut dan memohon pada Tuhan untuk menolong dan sembuhkan En Xi, karena Jun Xi dan En Xi saling mencintai ia rela melepaskan En Xi. Tapi Han Tai meminta pada Tuhan untuk tak melepaskannya dan menolongnya.



-Bersambung-

2 komentar:

oktaviani diana mengatakan...

tungguin 1 episode terakhir lagi ..

Anonim mengatakan...

semangat....

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger